Skip to content
Suara Pertama

Suara Pertama

Bersuara dengan Berita

Primary Menu
  • Home
  • Politik
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Lainnya

Di Tangan Mahasiswa UC Surabaya, Pagelaran Busana Bisa Bicara Soal Skizofrenia dan Pemberdayaan UMKM

Riko 6 Juni 2026
Di Tangan Mahasiswa UC Surabaya, Pagelaran Busana Bisa Bicara Soal Skizofrenia dan Pemberdayaan UMKM

SURABAYA – Pernahkah anda mengira gelaran fashion show tak hanya menampilkan keindahan dan estetika gaun semata? Melainkan sarat akan makna dan isu yang berkembang di masyarakat. ​Melalui pagelaran busana, Fashionology 2026 yang diselenggarakan oleh Program Studi Fashion Product Design and Business, Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra (UC) Surabaya, menafsirkan berbagai isu sosial, budaya, teknologi, hingga keberlanjutan dalam perspektif fashion yang segar dan relevan.

Salah satu karya yang paling mencuri perhatian adalah koleksi streetwear konseptual bertajuk “Interior” karya Jocelin Clementine. Di saat banyak orang membicarakan kesehatan mental sebatas awareness, Jocelin melangkah lebih jauh. Ia menjadikan fashion sebagai medium ekspresi murni untuk menerjemahkan kompleksitas psikologis penderita Skizofrenia Paranoid.

​”Aku mengangkat tema skizofrenia paranoid karena penderitanya sering merasa selalu diawasi, mendengar suara, atau melihat penampakan yang sebenarnya tidak ada,” ungkap Jocelin, Sabtu (6/6/2026). 

“Secara saintifik, otak mereka memang sudah terprogram berpikir begitu. Jadi, ini penyakit yang benar-benar nyata,” tambahnya. 

​Dipicu oleh keresahan bahwa isu mental health masih jarang dieksplorasi di dunia mode, Jocelin melakukan wawancara langsung dengan penyintas. Hasilnya? Sebuah koleksi dari bahan denim dan katun yang terasa personal, gelap, namun indah.

​Mahasiswa semester delapan itu menerjemahkan paranoid tersebut lewat detail-detail garmen yang genius. Siluet oversized yang melebar melambangkan mekanisme pertahanan diri. Konstruksi asimetris mencerminkan batin yang tidak stabil. 

Paling menyolok, motif mata yang tersebar di permukaan kain menggambarkan rasa diawasi secara konstan. Tak lupa, aksen slashing (potongan robek) mengekspresikan luka batin, sementara lilitan tali merah dan rantai (chain) mengunci rasa terkekang para penderita.

Lima karya mahasiswa UC yang dipamerkan dalam Fashionology 2026. (FOTO: Siti Nur Faizah/TIMES Indonesia)

​”Mereka (para penderita) sebenarnya ingin ceritanya tersampaikan, tapi tidak dalam bentuk yang negatif atau memicu trauma (triggering). Jadi, aku mengekspresikannya lewat seni fashion yang indah, sehingga nyaman dipakai dan juga nyaman dilihat,” ungkap Jocelin. 

​Skena Hip Hop Lokal, Limbah Batik, dan Pemberdayaan UMKM

​Bergeser dari sudut ruang psikologis Jocelin, riuh dinamika urban anak muda tersaji lewat karya Muhammad Atho’illah. Ia membawa energi jalanan lewat koleksi streetwear yang terinspirasi dari Budaya Skena Hip Hop Lokal.

​Atho’illah menangkap keberagaman gaya berpakaian komunitas hip hop, mulai dari tren celana sagging (melorot), celana denim gombrong, pakaian berlapis-lapis (layering), hingga aksesori yang mencolok. 

“Namun, nilai utama dari koleksinya terletak pada jembatan budaya yang ia bangun,” katanya. 

​Alih-alih menggunakan kain baru, Atho’illah memilih berkolaborasi dengan pengrajin batik lokal asal Mojokerto, Omah Batik Pina Pinu. Ia memanfaatkan limbah kain batik sisa (deadstock) dan menyatukannya lewat teknik patchwork dan applique. Hasilnya adalah pakaian streetwear bertekstur unik, berpenampilan global, namun tetap mengakar pada identitas lokal.

“Budaya skena bukan sekadar baju longgar. Ini adalah ruang negosiasi identitas anak muda urban sekaligus penggerak roda ekonomi kreatif. Koleksi ini juga berdampak kepada pertumbuhan ekonomi UMKM dalam mendukung pegiat usaha Dan pengerajin batik lokal,” terang Atho’illah.

Lebih lanjut, menurut Ketua Program Studi Yoanita Kartika Sari Tahalele, karya tugas akhir dari 47 mahasiswa ini ditantang tidak hanya menciptakan pakaian yang estetis, tetapi juga menjawab problematik di masyarakat secara holistik.

​”Ini adalah wujud dari kreativitas, inovasi, dan bagaimana mereka mencoba menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat dalam desain dan produk fashion,” ujarnya yang juga Ketua Fashionology 2026.

Fashionology 2026 juga dirancang sebagai jembatan langsung ke industri. “Jadi mereka juga diperkenalkan kepada mitra desainer maupun mitra industri. Ini juga sekaligus ajang untuk wawancara gitu ya. Jadi kalau mereka ada yang menyukai, bisa langsung ke mahasiswa, bahkan ada beberapa yang sudah mendapat pekerjaan dari melihat karya-karya mereka,” pungkas Yoanita. (*)

Tags: Bicara Bisa Busana dan Mahasiswa Pagelaran Pemberdayaan Skizofrenia Soal Surabaya Tangan UMKM

Continue Reading

Previous: So Ji Sub Kembali jadi Agen Rahasia NIS, Apa Misinya
Next: Marjohan: Forkopimda Sudah Menunjukkan Jalan Keluar, KSOP Jangan Lagi Memperpanjang Konflik TKBM Dumai

Berita Terkait

Lee Dong Wook Kembali Buka Toko, A Shop for Killers Makin Menegangkan

Lee Dong Wook Kembali Buka Toko, A Shop for Killers Makin Menegangkan

Riko 12 Juni 2026
Totalitas Nam Koong Min Mencari Istrinya yang Diculik dalam The Husband

Totalitas Nam Koong Min Mencari Istrinya yang Diculik dalam The Husband

Riko 9 Juni 2026
Muhammadiyah Ajak Nonton Sambil Beramal Lewat Film Children of Heaven

Muhammadiyah Ajak Nonton Sambil Beramal Lewat Film Children of Heaven

Riko 9 Juni 2026

Berita Terbaru

  • AAKJ-TKBM Riau Minta Polemik TKBM Dumai Tetap Fokus pada Akar Persoalan
  • Minat Investasi Emas Meningkat, Galeri24 Bidik Pengunjung Jakarta Fair
  • Program AI Learning Turut Perkuat Komunikasi Profesional di Industri Keuangan
  • Lee Dong Wook Kembali Buka Toko, A Shop for Killers Makin Menegangkan
  • IHSG Tembus 6.000, BP BUMN Nilai Optimisme Terjaga
Tentang Kami | Redaksi | Info Iklan | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Kontak Kami
Copyright © All rights reserved. | Suarapertama.com