REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menargetkan produktivitas kedelai nasional dapat mencapai minimal 5 ton per hektare melalui penguatan riset dan kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Target tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat swasembada komoditas strategis yang masih bergantung pada impor.
Target itu disampaikan usai penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara Kementerian Pertanian (Kementan) dan BRIN. Kerja sama tersebut mencakup penguatan riset, pemanfaatan fasilitas penelitian, hingga hilirisasi inovasi untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian.
“Ya kalau saya, kalau mintanya saya ya minimal 5 ton. Tapi kalau 3 ton, 4 ton itu sudah bagus,” kata Amran saat menjawab pertanyaan mengenai target produktivitas kedelai dari kolaborasi riset Kementan dan BRIN di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Mentan menerangkan pemerintah mulai mengarahkan fokus pada komoditas yang memiliki permintaan tinggi dan berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani. Setelah produksi padi dan jagung menunjukkan perkembangan positif, perhatian pemerintah kini diarahkan pada kedelai, bawang putih, kakao, mente, dan tebu.
Menurut dia, pengembangan komoditas tersebut akan ditopang oleh riset yang lebih kuat, kehadiran peneliti di lapangan, serta pemanfaatan teknologi untuk menghasilkan varietas dan metode budidaya yang lebih produktif.
“Pertama, padi sudah selesai. Jagung sudah swasembada untuk pakan. Ke depan kita fokus kedelai, bawang putih, kakao, mente, tebu, dan seterusnya yang demand-nya tinggi di tingkat dunia, serta bisa meningkatkan kesejahteraan petani dengan cepat,” ujar Amran.
Pemerintah juga menyiapkan dukungan anggaran untuk mengawal program tersebut. Pendampingan tidak hanya dilakukan pada skala percobaan, tetapi langsung diterapkan di sentra-sentra produksi bersama petani.
Amran menjelaskan pengembangan komoditas dilakukan berdasarkan keunggulan masing-masing wilayah. Untuk bawang putih, misalnya, pemerintah telah memetakan kawasan potensial seperti Sembalun di Nusa Tenggara Barat, Sumatra Utara, dan Temanggung di Jawa Tengah. Para peneliti akan diturunkan langsung ke lokasi untuk mengawal aspek budidaya, pengelolaan air, dan penerapan teknologi produksi.
